MAKALAH ELEMEN MESIN ( BEARING DAN PELUMASAN )
MAKALAHELEMEN MESIN 2
“ BEARING DAN
PELUMASAN ’’
Disusun oleh :Ridwan Fiatna (
2014030200 )
KELAS : 05TMSEBFAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESINMata Kuliah :
Elemen Mesin 2Dosen : Bapak Wahid
Nurcipto
Kata
Pengantar
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Bearing
dan Pelumasan ini dengan baik meskipun banyak kekurangan di dalamnya. Dan juga
kami berterima kasih pada Bapak Wahid Nurcipto selaku Dosen mata kuliah Elemen
Mesin 2 yang telah memberikan tugas ini kepada kami.Kami sangat
berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Bearing dan Pelumasan. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun
dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Tangerang, 15 Oktober 2016
Ridwan Fiatna
BAB
IPENDAHULUAN1.1.Latar belakang.
Bearing dalam
Bahasa Indonesia berarti bantalan.
Dalam ilmu mekanika bearing adalah sebuah elemen mesin yang berfungsi untuk
membatasi gerak relatif antara dua atau lebih komponen mesin agar selalu
bergerak pada arah yang diinginkan. Bearing menjaga poros (shaft) agar selalu
berputar terhadap sumbu porosnya, atau juga menjaga suatu komponen yang
bergerak linier agar selalu berada pada jalurnya.
Bantalan merupakan salah satu bagian
dari elemen mesin yang memegang peranan cukup penting karena fungsi dari
bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa
mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup kuat untuk memungkinkan
poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik.Bearing atau laher adalah komponen
sebagai bantalan untuk membantu mengurangi gesekan peralatan berputar pada
poros/as. Bearing atau laher ini biasanya berbentuk bulat. Bearing di mobil
dipasang pada as roda dan ditempat-tempat yang berputar lainnya.Tujuan dari
bantaran balock untuk mengurangi gesekan rotasi dan mendukung radial dan aksial
beban.Karena fungsinya yang krusial, Bearing membutuhkan perawatan
yang baik sehingga di dapatkan umur kerja yang panjang. Salah satu bentuk
perawatan Bearing yang utama adalah lubrikasi atau pelumasan.
1.2.Tujuan.
1. Sebagai pengetahuan bagi
Mahasiswa tentang Bearing dan Pelumasan2. Tugas dari Mata Kuliah Elemen Mesin 2
1.3. Rumusan Masalah.
1. Sebutkan Jenis Bearing dan kegunaannya.2. Bagaimanakah pelumasan pada bearing.3. Sebutkan Jenis pelumasan pada bearing, berikut bahan, kelebihan, kekurangan,
dan juga kegunaannya.4. Apa sajakah fungsi pelumasan pada bearing.
BAB IIPembahasan
2.1. Jenis-jenis
Bearing dan kegunaannya
Terdapat
6 jenis bearing automotive
equipment yang
patut diketahui baik teknisi ataupun konsumen, karena komponen yang dinamakan
bearing ini berfungsi untuk meminimalisir gesekan pada sebuah komponen bergerak
atau mesin agar lebih lancar, halus dan tidak merusak komponen lain.
Nah,
alasan mengapa komponen ini punya hubungan erat dengan perlengkapan otomotif
atau automotive equipment tentu karena sistem kerja kendaraan cenderung memanfaatkan
bearing, entah itu sebagai sistem putar roda kendaraan, sistem kerja mesin,
alternator hingga kipas pendingin dan kompresor air conditioner mobil.Semua
memiliki komponen bearing dengan jenis yang berbeda tentunya.
Ball
Bearing
Ball bearing merupakan bearing yang paling umum dan tak hanya
digunakan untuk automotive equipment. Biasanya komponen ini digunakan pada
mesin dan alat-alat rumah tangga.
Bearing
ini punya kinerja sederhana tapi gerak putarnya efektif. Sehingga menjadi
bearing yang paling banyak dipakai karena bisa mewakili baik beban putar
(radial load) ataupun beban tekan dari samping (thrust load). Meski punya
kemampuan bagus, tetapi usahakan untuk dipakai pada beban yang tidak terlalu
berat.
Roller
Bearing
Ilustrasi paling mudah untuk perlengkapan automotive jenis
bearing tipe roller ini adalah conveyor belt, dimana bearing di beri beban
cukup berat.
Sesuai
namanya, roller bearing berupa roller yang berbentuk silinder, dan kinerjanya
adalah kontak antara bagian dalam (inner race) dan bagian luar (outer eace)
bukan bertumpu pada satu titik seperti pada ball bearing, tapi segaris (sesuai
lebar roller).
Karena
titik tumpunya lebih lebar atau lebih dari satu titik, maka kekuatan tumpuan
bebannya juga lebih besar. Roller bearing ini juga bervariasi termasuk Needle
Bearing, yakni menggunakan silinder dengan diameter yang sangat kecil, karena
itulah, disamakan dengan jarum (needle).
Ball
Thrust Bearing
Jenis bearing automotive equipment ini ini punya aplikasi
khusus, tak umum seperti jenis sebelumnya. Jenis bearing ini hanya digunakan
untuk aplikasi dengan putaran gerak rendah.
Tidak
bisa dipakai untuk radial load, misalnya untuk benda yang biasanya menggunakan
ball thurst bearing seperti meja makan model putar, kursi, lemari kecil dan sejenisnya.
Roller
Thrust Bearing
Roller thurst bearing bisa menahan beban cukup berat, biasa
dipakai di Gear Set kendaraan seperti transmisi atau Gear Box mobil, dimana
butuh rumah dan rotating shaft. Gigi matahari yang dipakai ditransmisi mobil
juga butuh bearing ini.
Komponen ini juga tak kalah penting untuk perlengkapan otomotif
kendaraan khususnya mobil. Inilah jenis bearing automotive equipment yang biasa
dipakai di tromol mobil, dimana roller bearingnya punya dua bagian yang saling
bersebrangan arah. Dengan begitu, dua roller bearing ini bisa menahan beban
(trust load) dari dua arah tersebut.
Magnetic
Bearing
Sebagai jenis terakhir dalam ulasan ini, Magnetic Bearing juga
punya peran yang boleh dibilang mumpuni, inilah bearing paling modern dengan
daya kerja atau putaran tinggi. Biasanya bearing ini dipakai pada sistem dan
perangkat tertentu seperti Flywheel.
Dengan
bantuan magnetic bearing ini, maka flywheel bisa terapung di medan magnet.
Beberapa tipe flywheel bisa berputar lebih dari 50 ribu rpm.
Bandingkan
dengan Roller Bearing biasa atau Ball Bearing yang akan langsung meleleh dalam
kecepatan ini. Karna magnetic bearing tidak punya moving part, maka kecepatan
putarnya bisa sangat cepat.
Itulah
jenis bearing automotive equipment yang patut diketahui, perkara itu penting
atau tidak tetapi jika Anda memiliki sebuah kendaraan baik sepeda genjot atau
kendaraan lain, maka selayaknya Anda ketahui hal ini.
2.2. Pelumasan Bearing.
Pelumasan bearing diperlukan untuk mengurangi gesekan,
keausan dan dalam beberapa kasus digunakan untuk memindahkan panas yang
dihasilkan oleh gesekan pada bearing.Banyak riset telah dilakukan guna
menemukan metode pelumasan yang efektif.
Terdapat
empat jenis gesekan dan system pelumasan yang memyetainya:
1.
Dry
friction adalah saat
tidak ada pelumas di antara permukaan-permukaan yang saling bersentuhan. Pada
kondisi beban yang ringan, bearing akan bekerja namun dengan koefisien gesek
tinggi. Saat beban bearing meningkat, akan tercapai suatu titik dimana terjadi
kontak molekul logam ke logam yang menyebabkan perpindahan material pada
permukaan-permukaan yang berdekatan satu sama lainnya. Proses ini dinamakan
temporary welding action.
2. Boundary lubrication adalah saat lapisan oil film di
antara permukaan yang saling menggelinding berada dalam kondisi yang sangat
tipis. Ini terjadi pada bearing sebuah machine ketika suplai pelumas bertekanan
mengalami kegagalan, ketika machine di-start setelah standing idle selama
beberapa jam, atau pada machine dimana pelumas dari plain bearing tidak
berkelanjutan, seperti melumasi part dengan oli dari oil can sekali dalam
sebulan. Sifat-sifat yang terpenting dari oli pada sistem pelumasan adalah
kemampuan mengalir sendiri ke dalam dua permukaan untuk memberikan lapisan
pelindung
3. Full film lubrication memisahkan dua permukaan dengan
pelumas bertekanan. Pelumas bertekanan dibentuk oleh kombinasi viskositas oli
yang cukup dan pergerakan relatif dari permukaan yang membentuk sebuah bantalan
hydrodynamic di bawah shaft yang menjamin tersedianya lapisan oil film. Untuk
pelumasan jenis ini, harus tersedia cukup oli dan jenis olinya pun penting
diperhatikan karena meskipun ketebalan oli yang terbentuk sebagai bantalan
hydrodynamic sudah sesuai, namun tenaga tidak boleh terlalu banyak diserap
akibat oli yang terlalu kental.
4. Rolling friction terjadi pada anti-friction bearing,
dimana kerja bearing tidak bergerak meluncur tetapi hanya ball atau roller yang
berputar disepanjang permukaan yang halus. Jika diberi beban, maka roller
sedikit menekan permukaan dan dibutuhkan tenaga untuk memutarnya
5. Kondisi
shaft saat berputar berawal dari dry friction, boundary lubrication dan full
film lubrication.
2.2.1. Metode Pelumasan
Peralatan
pelumasan bervariasi dari lubang oli yang sederhana sampai sistem sirkulasi
yang lebih rumit, terdiri dari: pompa, filter, pendingin oli dan perlengkapan
peringatan penurunan tekanan dan suhu berlebih.
Sistem
pelumasan oli dapat diklasifikasikan ke dalam:
1.
Hand oiling atau
pelumasan manual dimana diperlukan keterlibatanoperator/maitenance .Bentuk yang
paling sederhana dari system ini adalah lubang yang dibor pada
bearing/dudukannya kemudian dipasang nipple sebagai penutup sekaligus tempat
pelumasan.
2.
Low-pressure, non-mechanical system terdiri
dari reservoir oli dengan menggunakan beberapametode untuk menyuplai oli ke
bearing .Oli mengalir ke bearing dengan konstan, walaupun shaft berputar atau
tidak, tetapi jika oli sudah kering, penunjukan pada reservoir oli dapat
mengindikasikan kemungkinan bearing berputar dengan kondisi oli
kering.Metode-metode tersebut adalah:
• Metode absorbent wick (sumbu hisap):Sumbu bertindak sebagai
penyerap dan semakin panjang sumbu diluar reservoir semakin banyak aliran
olinya
• Metode constant drip system (tetesan konstan) memiliki pengaturan untuk
mengontrol tingkat tetesan oli dan memiliki permukaan yang transparan sehingga
tingkat ketinggian oli dapat diperiksa.
3. Total Loss Feed Bertekanan Tinggi yang Diatur
Secara Mekanis;Pada sistem otomatis, pompa digerakkan dengan kecepatan rendah
oleh cam yang berfungsi sebagai penggerak dari machine yang akan dilumasi
2.3.
jenis pelumasan pada bearing.
Secara umum sistem pelumasan pada bearing dibagi menjadi tiga
jenis, yakni menggunakan grease,
menggunakan oli, dan tipe kering. Pemilihan diantara ketiganya tergantung
atas kondisi operasional bearing,
jenis dan ukuran bearing,
konstruksi penggunaan bearing,
kebutuhan sirkulasi pelumasnya serta biaya yang tersedia.
Grease Lubrication
Grease adalah zat lubricant yang berstruktur semi-solid. Grease dibuat dari minyak
mineral atau juga nabati yang dicampur dengan zat pengental sejenis sabun.
Terkadang ditambahkan pula dengan zat aditive seperti PTFE, grafit, dan
molibdenum desulfit, untuk memperbaiki sifat-sifat pelumasnya.
Grease digunakan pada mekanisme bearing yang hanya membutuhkan
sedikit lubrikasi, dimana tidak perlu menggunakan oli sebagai lubricant. Ia juga berfungsi untuk
mencegah masuknya kotoran-kotoran masuk ke bearing. Sisi negatif dari penggunaan grease adalah gesekan pada
bearing yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan penggunaan oli, hal ini
disebabkan karena nilai viskositasnya yang tinggi.
Berikut adalah beberapa jenis grease bearing yang diklasifikasikan berdasarkan jenis
bahan dasar serta fungsinya:
1.
Mineral Grease: Jenis ini menggunakan bahan dasar utama dari mineral minyak
bumi, yang dikentalkan oleh bahan sabun. Tipe ini biasa digunakan pada bearing-bearing mesin industri.
Dapat bekerja pada temperatur tinggi, terutama yang berbahan dasar sintetis.
2.
Silicone Grease: Tipe ini menggunakan bahan pengental silika yang tidak akan
membentuk struktur kristal di dalamnya. Grease tipe ini tidak akan merusak seal yang terbuat dari karet
karena bahan dasarnya yang tidak menggunakan minyak bumi.
3.
Food-Grade Grease: Grease jenis
ini menggunakan bahan dasar minyak nabati. Ia digunakan sebagai pelumas
pada bearing-bearing mesin
yang melakukan kontak langsung dengan makanan. Industri manufaktur yang
memproduksi makanan pasti menggunakan pelumas jenis ini pada mesinnya.
Salah satu jenis bearing yang
paling banyak digunakan di dunia industri adalah tipe ball bearing. 90% dari ball bearing menggunakan
pelumas grease.
Penggunaan grease pada ball bearing dapat
diklasifikasikan berdasarkan desain bearing tersebut
menjadi tiga, yaitu:
1.
Single-Shield Bearing
Tipe ini menggunakan sebuah bearing yang memiliki desain
khusus dimana pada salah satu sisinya dibuat sebuah dinding tipis (shield). Dinding ini berfungsi untuk
menjaga agar kotoran yang tercampur dengan grease di luar dinding tidak masuk ke sisi roller. Desain ini akan lebih
memperpanjang usia bearing karena kotoran tidak akan secara mudsh masuk ke
sisi roller.
2.
Double-Shield Bearing
Sama dengan tipe sebelumnya, hanya
saja kali ini terdapat dua dinding tipis di kedua sisi roller. Dengan desain ini akan
didapatkan perlindungan yang lebih maksimal terhadap roller. Sirkulasi grease terjadi dengan perlahan
pada saat mesin berputar dan menciptakan gaya sentrifugal pada bearing tersebut.
3.
Open Bearing
Berbeda dengan dua tipe sebelumnya,
tipe ini tidak menggunakan dinding (shield)
untuk melindungi roller.
Namun jenis ini adalah yang paling cocok digunakan untuk mesin dengan beban
kerja yang tinggi, sehingga membutuhkan sirkulasi grease lebih besar untuk kebutuhan pendinginan.
Oil Lubrication
Lubrikasi bearing yang
menggunakan oli, dibutuhkan pada mesin-mesin dengan beban kerja tinggi. Sistem
lubrikasi oli juga berfungsi untuk menyerap panas yang timbul pada areabearing akibat beban kerja yang
tinggi. Selain itu, lubrikasi oli pada bearing juga digunakan pada mesin-mesin
yang memang bekerja pada temperatur tinggi, seperti feed water pumppada water-steam cycle yang berfungsi
memompa air bertemperatur tinggi dari tangki ke boiler.
Berikut adalah beberapa bentuk desain lubrikasibearing dengan menggunakan oli:
1.
Ring Oiler
Ring oiler adalah sistem lubrikasi oli yang paling sederhana,
terdiri atas sebuah cincin logam yang terletak melingkar di sekeliling shaft dan berdekatan dengan bearing. Tepat di bawah shaft tersebut terdapat sebuah
bak oli, dan dengan ukuran cincin logam yang cukup maka ada bagian cincin
tersebut yang terendam oli. Jika poros berputar, maka cincin akan ikut
berputar. Putaran cincin ini akan membawa oli dari bak untuk naik ke atas dan
sampai pada poros mesin selanjutnya oli tersebut akan menyebar kesamping untuk
melumasi bearing.
Lubrikasi oli tipe ini cocok
digunakan untuk mesin dengan beban kerja sedang dengan putaran poros tidak
lebih dari 1000rpm. Bearing yang
menggunakan sistem pelumasan ini haruslah yang bekerja pada poros mesin yang
berada dalam posisi horisontal. Pelumasan tipe ini banyak digunakan pada
motor-motor listrik dan generator kecil.
2. Splash Lubrication
Splash Lubrication Sistem lubrikasi
ini digunakan pada banyak sistem roda gigi serta mesin penggerak piston.Sistem
ini menggunakan sebuah bak oli yang terletak di bawah sistem roda gigi ataupunsistem
piston, dengan ada bagian roda gigi yang terendam di dalam oli. Pada saat mesin
beroperasi, maka pada roda gigi yang terendam oli tersebut akan mencipratkan
oli ke semua bagian mesin termasuk ke bearing. Level oli di dalam bak sistem ini harus selalu dijaga
pada level yang cukup. Sedikit saja level oli tersebut kurang akan sangat
berbahaya terhadap sistem keseluruhan, tidak hanya berbahaya pada sisi bearing tapi juga berbahaya pada
roda gigi ataupun piston yang ada di dalamnya.
3.
Pressure Lubrication
Pressure Lubrication. Mesin yang
bekerja pada kondisi temperatur tinggi atau juga daya yang sangat tinggi,
membutuhkan sistem pelumasan yang kompleks. Apalagi jika mesin tersebut bekerja
di area kerja yang kotor, kontaminasi dari kotoran yang tercampur oli akan
sangat mengurangi umur bearing dan
komponen mesin lainnya. Pada mesin sejenis ini diperlukan minyak pelumas dalam
kondisi bersih dan bertemperatur stabil yang selalu di-supply ke bagian-bagian
yang membutuhkan pelumasan, dan oli yang terbuang dapat di-treatment lebih lanjut sehingga
dapat dipergunakan kembali. Treatment oli
pada sistem pressure lubrication memiliki
fungsi utama sebagai berikut:
§
Filterisasi untuk
menyaring kotoran-kotoran yang ada di dalam oli.
§
Mendinginkan oli
untuk menghindari overheat pada
komponen-komponen mesin.
§
Terkadang digunakan
pula sistem purifier untuk
menghilangkan kandungan air yang mungkin saja tercampur dengan oli.
Oil
Pressure Lubrication Pada Mobil Rolls-Royce Sistem lubrikasi bertekanan ini sangat cocok digunakan pada
mesin-mesin besar seperti pompa yang digunakan pada water-steam cycle, mesin turbocharge, atau juga mesin mobil.
Dry Lubrication
Sistem lubrikasi yang ketiga
ini tidak melibatkan pelumas berbahan cair seperti grease dan oli, sistem ini menggunakan material padat yang
dipasangkan langsung pada permukaan gesekan. Bahan-bahan utama yang digunakan
sebagai pelumas jenis ini antara lain adalah:
1.
Graphite: Digunakan pada kompresor, mesin industri makanan, ball bearing, dan sebagainya.
2.
Molibdenum desulfit: Digunakan pada mesin-mesin vakum.
3.
Heksagonal boron
nitrit: Digunakan pada kendaraan-kendaraan
luar angkasa.
4.
Tungsten disulfit: Penggunaannya sama dengan molibdenum desulfit, tetapi
karena harganya yang lebih mahal maka cukup jarang digunakan.
2.4. Fungsi lubrikasi pada bearing.
Berikut adalah fungsi lubrikasi pada bearing:
1.
Membentuk lapisan
film lubrikasi diantara dua bidang kontak sehingga dapat membantu menahan beban
kerja serta mencegah keausan dan kerusakan prematur.
2.
Menyerap panas yang
timbul.
3.
Mencegah
kontaminasi kotoran-kotoran yang berasal dari luar.
4.
Menghindari suara
bising.
5.
Mencegah korosi
pada bearing.
6.
Sebagai
sistem sealing tambahan.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan.
Dari makalah diatas
ditarik kesimpulan bahwa :
1.
bearing adalah sebuah elemen mesin yang berfungsi
untuk membatasi gerak relatif antara dua atau lebih komponen mesin agar selalu
bergerak pada arah yang diinginkan. Bearing menjaga
poros (shaft)
agar selalu berputar terhadap sumbu porosnya, atau juga menjaga suatu komponen
yang bergerak linier agar selalu berada pada jalurnya.
2.
Pelumasan Bearing
diperlukan untuk mengurangi gesekan, keausan, dan dalam beberapa kasus di
gunakan untuk memindahkan panas yang dihasilkan oleh gesekan pada bearing.
Banyak riset telah dilakukan guna menemukan metode pelumasan yang efektif.
Daftar Pustaka
https://maintenanceserviceheavyequipment.wordpress.com/2015/11/24/pelumasan-bearing/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pelumas
http://artikel-teknologi.com/macam-macam-sistem-lubrikasi-bearing/
Tapered Roller Bearing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar